Dear Sahabat,
Entah mungkin hanya anggapanku saja, tapi kau pernah menjadi teman terbaik hingga aku mengkategorikanmu sebagai "sahabat" atau "partner of success" seperti katamu. Segala kebaikanmu di masa lalu, segala perjuangan kita bersama, nyatanya masih kuingat dengan jelas hingga tak henti-hentinya aku bersyukur pernah dipertemukan dengan orang luar biasa sepertimu. Sayangnya aku bukan orang yang gampang untuk mengungkapkan perasaan. Alih-alih mengucap terima kasih, aku malah bersikap seolah-olah kita dekat dan kata 'ajaib' itu kukira sudah jadi bahasa kalbu yang sudah kita mengerti masing-masing. karena tanpa kata pun, hatiku selalu berterima kasih. Hari ini tepat satu tahun dua bulan sebelas hari, sejak kau memutuskan komunikasi. Mengingat tabiatmu, memang dari awal aku sudah menyadari ada yang 'salah' dari cara komunikasiku terakhir kali. Tapi aku masih terlalu takut untuk mencari tahu lebih jauh, malah hanya terus menerka-nerka da...