Postingan

CINTA YANG JATUH DI ATAS PAYUNG

Gambar
sumber gambar :https://vieragileventa.files.wordpress.com/2015/08/162718_620.jpg Tuhan tidak hanya menurunkan hujan saat mendung, mungkin saja ada hal lain yang jatuh di atas payung. Cinta misalnya. Hujan di bulan Desember. Serang sebagai kota berdataran rendah yang dekat dengan laut biasanya jarang disambangi hujan, namun pada pukul tiga sore ini kota madani itu masih gerimis. Rintikan air yang tidak lebat itu cukup membuatku terganggu karena meninggalkan sensasi geli di permukaan wajah. Telapak tangan berusaha kujadikan pelindung. Langkah kaki kupercepat agar segera mencapai tempat yang dapat kujadikan tempat berteduh. Di terminal pakupatan ini, aku tengah menunggu bis yang akan membawaku ke kampung halaman. Akhirnya kusambangi sebuah warung agar tak kebasahan. Berdesakan dengan beberapa orang yang terus saja menggerutu. Padahal kulihat beberapa orang menenteng sebuah payung. Aku mengerutkan alis. “Kalo pake payung enak nih sebenernya. Nunggu busnya gak harus d...

Demi Rupiah Aku Berkamuflase

Gambar
PT KAI tengah berbenah. Banyak infrastruktur perkeretaapian yang diperbaiki, pelayananpun makin ditingkatkan. Kenyamanan penumpang merupakan tujuan utama. Dulu, kereta api ekonomi adalah sebuah sarana murah yang dijadikan transportasi utama para pedagang. Tidak hanya itu, kereta yang merupakan pasar potensialpun dijadikan tempat menjajakan dagangan bagi mereka. Apapun dapat diangkut transportasi murah meriah tersebut. Mulai dari produk pertanian hingga hewan. Namun, seiring berjalannya waktu, demi mewujudkan kenyamanan tersebut PT KAI mulai melarang praktek jual beli yang ada di kereta. “Aman, Jo?” tanya seorang wanita berusia tiga puluhan yang tengah menjual nasi merah. Ia celingak-celinguk sambil  menuangkan sambel pada nasi pesanan salah seorang penumpang. Pemuda yang berada di perbatasan gerbong tersebut tampak memantau gerbong sebelah. Ia menajamkan  pandangan lantas matanya membulat, “Umpetin, teh, umpetin! Polsusnya mau kesini,” perintahnya. Baru saja menyer...

Aku tak Sendiri, ada IKADIKSI

Senin, 13 Oktober 2014   IKADIKSI. Sebuah kata yang begitu familiar di telingaku. Karena IKADIKSI adalah organisasi pertama yang kukenal di Untirta. Bukan, ini bukan berlebihan. Saat pertama menginjakkan kaki disini aku bahkan belum tahu apa itu BEM dan UKM hingga aku mulai mengenalnya saat praospek. Sedang IKADIKSI telah kuketahui bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di kampus ini. Kenapa seperti ini? Akupun tak mengerti. Yang jelas semua informasi yang kuperlukan setelah pengumuman kelulusan SBMPTN kudapatkan disana. Lantas, bagaimana aku tahu IKADIKSI jika aku belum pernah ke kampus ini? Ini semua berkat facebook. Berawal dari kebingunganku tentang proses daftar ulang bagi mahasiswa bidikmisi. Informasi yang diberikan di website bukan tak lengkap, melainkan aku belum mengerti akan nasibku. Apakah aku fix mendapat beasiswa atau masih harus tes dan semacamnya? Akhirnya melalui mesin pencari kutemukan akun BIDIK MISI UNTIRTA. Setelah permintaan pertemananku dit...

Bangga Pernah Jadi Bagiannya...

Gambar
Gemericik hujan yang tak begitu lebat namun cukup membuat kuyup jika kupaksakan diri untuk menyegerakan pulang. Tercium aroma aspal yang baru setengah basah. Terlihat beberapa orang yang terpaksa menunda jam pulang karena tidak ingin basah, juga anak karate yang tengah latihan di bawah hujan. Melihat semua itu, Aku tergelak kecil. * Tidak takut salah… Tidak takut kalah… Tidak takut jatuh… Tidak takut mati… Takut mati, jangan hidup… Takut hidup, mati sekalian…! Rangkaian suara tiba-tiba terdengar lagi. Sebuah motto yang begitu gagah namun tak sepenuhnya benar. Katanya tidak takut mati tapi cuma ada hujan saja bubar, begitu yang sering orang katakan tentang kami… PASKIBRA. Melihat anak karate yang tetap latihan ditengah hujan, aku jadi berpikir… sepertinya mereka lebih pantas menggunakan motto ini. “Siap Gerak!” suara kang subyani terdengar tegas hingga mampu membuat barisan di depannya siap. “Ingat, tiga belas unsur PBB dasar!” katanya, kemudian menyebutkan poin...